Hubungan Antara Persepsi Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional dengan Kepuasan Kerja Karyawan

Komentar : Saya memilih Jurnal ini sebagai Tugas kedua dari Mata Kuliah TOU 1 tentang jurnal yang berhubungan dengan organisasi, karena kepemimpinan merupakan bagian dari suatu organisasi yang juga harus mendapatkan perhatian lebih. Dimana di dalam jurnal ini dijelaskan bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin memiliki hubungan dengan kepuasan kerja karyawan, baik itu disisi proses pengerjaan suatu pekerjaan, kepuasaan bekerja, sampai mengeluarkan suatu hasil pekerjaan. Fungsi dari pemimpin di dalam organisasi juga mempunyai peran lebih di dalam suatu organisasi, apakah pemimpin itu dapat melaksanakan tugasnya dengan baik atau tidak, apakah komunikasi dengan seluruh lini di dalam organisasi baik atau tidak. -Afini Mahabas-

Sumber : Jurnal PSYCHE Vol. 1 No. 1, Desember 2004

(The Correlation Between Transactional – Transformational Leadership Style Perception and Employees’ Job Satisfaction)

Marselius Sampe Tondok
Rita Andarika

Fakultas Psikologi Universitas Bina Darma Palembang

Abstract

The main purpose of this research was to examine the correlation between the transactional and transformational leadership style perception and job satisfaction at Coordination Bureau of South Sumatera Credit Cooperation (Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Sumatera Selatan). This research employed random sampling technique. The subjects of this research were 100 employees.   The   data   were   collected   using   three   questionnaires:   the transactional leadership, transformational leadership, and job satisfaction questionnaires.   Data   were   analyzed   using   multiple   regression,   partial correlation, Pearson’s Product Moment, and t-test analysis. The result of the research are: (1) the was a very significant and positive correlation between transformational leadership style perception and job satisfaction, (2) there was not significant and negative correlation between transactional leadership style perception with job satisfaction, (3) there was a very significant and positive correlation   among   transactional   and   transformational   leadership   style perception with job satisfaction, and (4) there was a very significant difference in job satisfaction between male and female employees.

Keywords: perception, transactional, transformational, job satisfaction

Pendahuluan

Dewasa ini kepuasan kerja karyawan merupakan salah satu topik yang senantiasa menarik dan dianggap penting, baik oleh ilmuwan maupun praktisi, justru karena kepuasan kerja dipandang dapat mempengaruhi jalannya organisasi secara keseluruhan.

Setiap   organisasi   memiliki   tujuan   untuk   mencapai   kinerja   yang seoptimal mungkin. Peningkatan kinerja organisasi yang seoptimal mungkin tidak terlepas dari kepuasan kerja karyawan, sebagai salah satu faktor yang menentukan kinerja organisasi.

Berhadapan  dengan  usaha  peningkatan  kepuasan  kerja  karyawan, salah satu permasalahan dasar adalah bagaimana sebenarnya meningkatkan kepuasan kerja karyawan. Locke (dalam Berry, 1998) mendefinisikan kepuasan kerja sebagai emosi positif atau perasaan senang, sebagai hasil dari penilaian seorang karyawan terhadap faktor pekerjaan atau pengalaman-pengalaman kerjanya. Hal ini bersifat abstrak, sehingga tidak dapat diamati secara langsung (Berry dan Houston, 1993). Menurut Berry (1998); Spector dan Jex (1991) karyawan yang memiliki kepuasan kerja ditunjukkan oleh sikap yang tidak pernah absen, datang tepat waktu, bersemangat dan memiliki motivasi yang tinggi.

Kepuasan kerja, sebagaimana dikemukakan oleh Riggio (1990), merupakan  faktor  penting  yang  mempengaruhi  kepuasan  hidup  karyawan karena sebagian besar waktu karyawan digunakan untuk bekerja. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Judge (1993) melihat adanya hubungan erat antara kepuasan kerja, absensi, pemogokan kerja, dan turnover. Selanjutnya, Herzberg  (dalam  Wixley  dan  Jukl,  1988)  mengemukakan  bahwa  kepuasan kerja didukung oleh lima faktor yang meliputi: pekerjaan, rekan kerja, gaji dan kesejahteraan karyawan, promosi, dan pemimpin.

Sebagai salah satu faktor penentu kinerja organisasi, kepuasan kerja merupakan faktor yang sangat kompleks karena kepuasan kerja dipengaruhi berbagai faktor, di antaranya adalah gaya kepemimpinan (Judge dan Locke,1993). Selanjutnya, Berry (1998); Schultz dan Schultz (1994) mengemukakan variabel sertaan yang dianggap sebagai variabel demografik antara lain jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan masa kerja. Kwan dkk. (1997) mengemukakan   bahwa   tingkat   pendidikan   berhubungan   positif   dengan kepuasan kerja. Selanjutnya Berry dan Houston (1993) berpendapat bahwa masa kerja mempengaruhi kepuasan kerja.

Para ahli (misalnya Bass, 1990; Berry dan Houston, 1993); Burn dalam Pawar  dan  Eastman,  1997;  Eisenbach  dkk.,  1999;  Keller,  1992) mengemukakan ada dua gaya kepemimpinan dalam organisasi, yakni gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional.

Bertitik tolak dari pentingnya kepuasan kerja dalam kaitannya dengan gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara empiris hubungan antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan kepuasan kerja.

Tinjauan Pustaka

Salah satu teori yang menekankan suatu perubahan dan yang paling komprehensif berkaitan dengan kepemimpinan adalah teori kepemimpinan transformasional  dan  transaksional  (Bass,  1990).  Gagasan  awal  mengenai gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional ini dikembangkan oleh James MacFregor Gurns yang menerapkannya dalam konteks politik. Gagasan ini selanjutnya disempurnakan serta diperkenalkan ke dalam konteks organisasional oleh Bernard Bass (Berry dan Houston, 1993).

Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional dapat dipilah secara tegas dan keduanya merupakan gaya kepemimpinan yang saling bertentangan. Kepemimpinan transformasional dan transaksional sangat penting dan dibutuhkan setiap organisasi.

Selanjutnya Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997; Keller, 1992) mengembangkan konsep kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan  berlandaskan  pada  pendapat  Maslow  mengenai  hirarki  kebutuhan manusia. Menurut Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) keterkaitan tersebut dapat  dipahami  dengan  gagasan  bahwa  kebutuhan  karyawan  yang  lebih rendah, seperti kebutuhan fisiologis dan rasa aman hanya dapat dipenuhi melalui  praktik gaya kepemimpinan  transaksional.  Sebaliknya, Keller (1992) mengemukakan bahwa kebutuhan yang lebih tinggi, seperti harga diri dan aktualisasi diri, hanya dapat dipenuhi melalui praktik gaya kepemimpinan transformasional.

Sejauhmana pemimpin dikatakan sebagai pemimpin transformasional, Bass (1990) dan Koh, dkk. (1995) mengemukakan bahwa hal tersebut dapat diukur dalam hubungan dengan pengaruh pemimpin tersebut berhadapan karyawan. Oleh karena itu, Bass (1990) mengemukakan ada tiga cara seorang pemimpin transformasional memotivasi karyawannya, yaitu dengan:
1)   mendorong karyawan untuk lebih menyadari arti penting hasil usaha;
2)   mendorong karyawan untuk mendahulukan kepentingan kelompok; dan
3)   meningkatkan kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti harga diri dan aktualisasi diri.

Berkaitan dengan kepemimpinan transformasional, Bass (dalam Howell dan Hall-Merenda, 1999) mengemukakan adanya empat karakteristik kepemimpinan transformasional, yaitu:
1)   karisma,
2)   inspirasional,
3)   stimulasi intelektual, dan
4)   perhatian individual.

Selanjutnya, Bass (1990) dan Yukl (1998) mengemukakan bahwa hubungan pemimpin transaksional dengan karyawan tercermin dari tiga hal yakni:
1)   pemimpin mengetahui apa yang diinginkan karyawan dan menjelasakan apa yang akan mereka dapatkan apabila kerjanya sesuai dengan harapan;
2)   pemimpin menukar usaha-usaha yang dilakukan oleh karyawan dengan
imbalan; dan
3) pemimpin responsif terhadap kepentingan pribadi karyawan selama kepentingan   tersebut   sebanding   dengan   nilai   pekerjaan   yang   telah dilakukan karyawan.

Bass (dalam Howell dan Avolio, 1993) mengemukakan bahwa karakteristik kepemimpinan transaksional terdiri atas dua aspek, yaitu imbalan kontingen, dan manajemen eksepsi.

Berkaitan dengan pengaruh gaya kepemimpinan transformasional terhadap  perilaku  karyawan,  Podsakoff  dkk.  (1996)  mengemukakan  bahwa gaya kepemimpinan transformasional merupakan faktor penentu yang mempengaruhi sikap, persepsi, dan perilaku karyawan di mana terjadi peningkatan kepercayaan kepada pemimpin, motivasi, kepuasan kerja dan mampu   mengurangi   sejumlah   konflik   yang   sering   terjadi   dalam   suatu organisasi.

Menurut Bycio dkk. (1995) serta Koh dkk. (1995), kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin menfokuskan  perhatiannya  pada  transaksi  interpersonal  antara  pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan  pada  kesepakatan  mengenai  klasifikasi  sasaran,  standar  kerja, penugasan kerja, dan penghargaan.

Judge  dan  Locke  (1993)  menegaskan  bahwa  gaya  kepemimpinan merupakan salah satu faktor penentu kepuasan kerja. Jenkins (dalam Manajemen, 1990), mengungkapkan bahwa keluarnya karyawan lebih banyak disebabkan  oleh  ketidakpuasan  terhadap  kondisi  kerja  karena  karyawan merasa pimpinan tidak memberi kepercayaan kepada karyawan, tidak ada keterlibatan karyawan dalam pembuatan keputusan, pemimpin berlaku tidak objektif  dan  tidak  jujur  pada  karyawan.  Pendapat  ini  didukung  oleh  Nanus (1992) yang mengemukakan bahwa alasan utama karyawan meninggalkan organisasi disebabkan karena pemimpin gagal memahami karyawan dan pemimpin tidak memperhatikan kebutuhan-kebutuhan karyawan. Dalam kaitannya dengan koperasi, Kemalawarta (2000) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa kendala yang menghambat perkembangan koperasi di Indonesia adalah keterbatasan tenaga kerja yang terampil dan tingginya turnover.

Pada  dasarnya,  kepemimpinan  merupakan  kemampuan  pemimpin untuk mempengaruhi karyawan dalam sebuah organisasi, sehingga mereka termotivasi untuk mencapai  tujuan  organisasi.  Dalam  memberikan penilaian
terhadap gaya kepemimpinan yang diterapkan pemimpin, karyawan melakukan
proses kognitif untuk menerima, mengorganisasikan, dan memberi penafsiran terhadap pemimpin (Solso, 1998).

Berbagai penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kepuasan kerja terutama dalam hubungannya  dengan gaya kepemimpinan transformasional dan   transaksional.   Penelitian   yang   dilakukan   oleh   Koh   dkk.   (1995) menunjukkan  bahwa  ada  hubungan  yang  signifikan  antara  kepemimpinan transformasional dan transaksional dengan kepuasan kerja. Penelitian yang dilakukan oleh Popper dan Zakkai (1994) menunjukkan bahwa pengaruh kepemimpinan transformasional terhadap organisasi sangat besar.

Bertitik-tolak dari tinjauan pustaka di atas, maka hipotesis penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
(1) terdapat   hubungan   positif   antara   persepsi   gaya   kepemimpinan transformasional dengan kepuasan kerja;
(2)  terdapat    hubungan    negatif    antara    persepsi    gaya    kepemimpinan
transaksional dengan kepuasan kerja;
(3) terdapat   hubungan   positif   antara   persepsi   gaya   kepemimpinan transformasional dan transaksional, secara bersama-sama, dengan kepuasan kerja; dan
(4) terdapat perbedaan kepuasan kerja antara karyawan laki-laki dengan karyawan perempuan.

Metode Penelitian

Variabel-Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini ada tiga jenis variabel penelitian, yakni variabel bebas (independent variable), variabel tergantung (dependent variable), dan variabel sertaan. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah: (1)persepsi gaya kepemimpinan transformasional, dan (2) persepsi gaya kepemimpinan   transaksional.   Variabel   tergantung   penelitian   ini   adalah kepuasan kerja. Variabel sertaan adalah: (1) jenis kelamin, (2) umur, dan (3) tingkat pendidikan.

Subjek

Subjek  dalam  penelitian  ini  terdiri  dari  100  orang  karyawan  Badan

Koordinasi  Koperasi  Kredit  Daerah  Sumatera  Selatan.  Teknik  pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling.

Alat Ukur
Untuk mendapatkan data mengenai variabel bebas dan variabel tergantung, penelitian ini menggunakan tiga angket yakni: (1) angket kepuasan kerja,    (2)    angket    kepemimpinan    transformasional,    dan    (3)    angket
kepemimpinan transaksional.

Angket pertama, angket kepuasan kerja, digunakan untuk mengetahui untuk mengetahui sikap karyawan terhadap faktor-faktor pekerjaan. Angket kedua, angket kepemimpinan transformasional, digunakan untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin yang berkaitan dengan kepemimpinan transformasinal. Angket ketiga, angket kepemimpinan transaksional, digunakan untuk mengetahui persepsi karyawan terhadap gaya kepemimpinan pemimpin yang berkaitan dengan kepemimpinan transaksional. Sementara itu, data mengenai variabel sertaan, yakni: jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan masa kerja diperoleh berdasarkan self-report subjek dalam angket.

Metode Analisis Data
Teknik analisis statistik yang digunakan untuk menguji keempat hipotesis penelitian adalah analisis korelasi parsial, analisis regresi ganda, uji-t,
dan analisis product moment.

Hasil

Hasil hipotesis pertama yang menggunakan analisis korelasi parsial

menunjukkan bahwa persepsi gaya kepemimpinan transformasional dengan kepuasan  kerja  berkorelasi  secara  positif  dan  sangat  signifikan  dengan koefisien korelasi sebesar 0,835; p < 0,01.

Hipotesis kedua yang dianalisis dengan dengan analisis korelasi parsial menunjukkan bahwa persepsi gaya kepemimpinan transaksional berkorelasi secara negatif dan tidak signifikan dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar -0,061; p > 0,05.

Hipotesis ketiga yang dianalisis dengan analisis korelasi regresi ganda menunjukkan   bahwa   persepsi   gaya   kepemimpinan   transformasional   dan transaksional,  secara  bersama-sama,  berkorelasi  secara  positif  dan  sangat signifikan dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar 0,695; p < 0,01.

Hipotesis keempat yang dianalisis dengan uji-t menunjukkan bahwa kepuasan kerja karyawan perempuan lebih tinggi dibandingkan dengan karyawan laki-laki, berkaitan dengan kelima faktor kepuasan kerja, yaitu faktor pekerjaan, rekan kerja, gaji, promosi, dan pimpinan. Hal ini diketahui dari hasil uji-t yang menunjukkan rerata sebesar 116,42 untuk karyawan perempuan dan
109,68 untuk karyawan laki-laki.

Hasil penelitian lain pada keempat faktor gaya kepemimpinan transformasional yakni faktor karisma, inspirasional, stimulasi intelektual, dan perhatian individual yang dianalisis teknik korelasi product-moment akan dijelaskan satu persatu.

Hasil penelitian pada faktor karisma menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor karisma dengan kepuasan kerja. Hal ini dapat diketahui dari koefisien korelasi sebesar 0,773; p < 0,01.

Hasil   penelitian   pada   faktor   inspirasional   menunjukkan   terdapat
hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor inspirasional dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar 0,772; p < 0,01.

Hasil penelitian pada faktor stimulasi intelektual menunjukkan terdapat hubungan  positif  dan  sangat  signifikan  antara  faktor  stimulasi  intelektual dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar 0,655; p < 0,01.

Hasil penelitian pada faktor perhatian individual menunjukkan terdapat
hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor perhatian individual dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar 0,699; p < 0,01.

Hasil penelitian pada kedua faktor gaya kepemimpinan transaksional yakni faktor imbalan kontingen dan manajemen eksepsi dengan menggunakan
analisis korelasi product moment akan dijelaskan satu persatu. Hasil penelitian
pada faktor imbalan kontingen menunjukkan terdapat hubungan negatif dan tidak signifikan antara faktor imbalan dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar -0,008; p > 0,05.

Hasil penelitian pada faktor manajemen eksepsi menunjukkan terdapat hubungan negatif dan tidak signifikan antara faktor manajemen eksepsi dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar -0,190; p > 0,05.

Hasil penelitian lain berkaitan dengan variabel sertaan yaitu umur, tingkat pendidikan, dan masa kerja. Hasil analisis korelasi product moment menunjukkan terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara umur dengan kepuasan kerja. Hal ini diketahui dari koefisien korelasi sebesar 0,632; p < 0,01.

Hasil   analisis   korelasi   product   moment   menunjukkan   terdapat hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan kerja. Hal ini diketahui dari koefisien korelasi sebesar 0,250; p < 0,01.
Hasil analisis korelasi product momen menunjukkan hubungan positif dan sangat signifikan antara masa kerja dengan kepuasan kerja, dengan koefisien korelasi sebesar 0,601; p < 0,01.

Berdasarkan hasil penelitian ini diketahui pula sumbangan efektif masing-masing prediktor (kepemimpian transformasional, kepemimpian transaksional,  jenis  kelamin,  umur,  tingkat  pendidikan,  dan  masa  kerja) terhadap kriterium (kepuasan kerja).   Sumbangan efektif kepemimpinan transformasional sebesar 57,202 persen; kepemimpinan transaksional sebesar 0,478 persen; jenis kelamin sebesar 1,126 persen, umur sebesar 7,728 persen, tingkat pendidikan sebesar 1,638, dan masa kerja sebesar 4,554 persen. Dengan demikian, sumbangan efektif seluruh predikor sebesar 72,727 persen. Hal ini berarti terdapat 27,273 persen variansi lain di luar penelitian ini yang mempengaruhi kepuasan kerja dan belum terungkap dalam penelitian ini.

Pembahasan

Hasil uji hipotesis pertama penelitian ini yang menunjukkan adanya korelasi positif dan sangat signifikan antara persepsi gaya kepemimpinan transformasional (r=0,835; p < 0,01), mendukung pendapat Keller (1992) yang mengatakan bahwa praktik gaya kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan kepuasan kerja bagi karyawan karena kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti kebutuhan harga diri dan aktualisasi diri. Selain itu, hasil penelitian ini juga memperkuat pendapat Nicholls (1994), Pawar dan Eastman (1997) bahwa  praktik gaya kepemimpinan trnasformasional mampu membawa perubahan-perubahan yang lebih mendasar seperti nilai-nilai, tujuan, dan kebutuhan karyawan dan perubahan-perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya kepuasan kerja karyawan karena terpenuhinya kebutuhan yang lebih tinggi. Senada dengan pendapat para ahli sebelumnya, Bycio dkk. (1995) serta Howell dan Avolio (1993) mengemukakan bahwa kepmimpinan transformasional memiliki keterkaitan yang positif terhadap kepuasan kerja karyawan kerena karyawan merasa dihargai eksistensinya.

Hasil uji hipotesis kedua penelitian ini yang menunjukkan bahwa persepsi gaya kepemimpinan transaksional berkorelasi secara negatif dan tidak
signifikan  dengan  kepuasan  kerja  (r=  -0,061;  p  >  0,05),  sejalan  dengan pendapat   Koh   dkk.   (1995)   yang   menegaskan   bahwa   kepemimpinan transaksional   hanya   menekankan   pada   transaksi   interpersonal   antara pemimpin dengan karyawan yang melibatkan hubungan pertukaran. Pertukaran tersebut didasarkan pada kesepakatan mengenai klarifikasi sasaran, standar kerja, penugasan kerja, dan penghargaan. Pendapat ini sejalan dengan pandapat  Bass  (1990)  yang  mengemukakan  bahwa  kepemimpinan transaksional merupakan dasar bagi berlangsungnya efektivitas organisasi, tetapi belum menjelaskan usaha dan kinerja optimal karyawan yang ditekankan pemimpin. Selanjutnya menurut Burn (dalam Pawar dan Eastman, 1997) bahwa ada  hubungan  yang  tidak  signifikan  antara  kepemimnpinan  transaksional dengan kepuasan kerja.

Hasil uji hipotesis ketiga penelitian ini, yang menunjukkan bahwa persepsi gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional, secara bersama-sama, berkorelasi secara positif dan sangat signifikan dengan kepuasan kerja (R=0,695; p < 0,01), sejalan dengan pendapat Keller (1992) yang mengatakan bahwa praktik gaya kepemimpinan transformasional mampu meningkatkan kepuasan kerja bagi karyawan karena kebutuhan karyawan yang lebih tinggi seperti kebutuhan   harga diri dan aktualisasi diri terpenuhi. Selanjutnya,    praktik kepemimpinan transaksional mampu meningkatkan kepuasan kerja bagi karyawan karena kebutuhan karyan yang lebih rendah seperti kebutuhan fisologis dan rasa aman dapat terpenuhi pula (Burn dalam Pawar  dan  Eastman,  1997).  Pendapat  ini  diperkuat  oleh  Seltzer dan  Bass (1990) yang mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional mempengaruhi kepuasan kerja.

Hasil  uji  hipotesis  keempat  penelitian  ini  yang menunjukkan  bahwa kepuasan  kerja  karyawan   perempuan   lebih   tinggi   dibandingkan  dengan karyawan laki-laki, berkaitan dengan kelima faktor kepuasan kerja, yaitu faktor pekerjaan, rekan kerja, gaji, promosi, dan pimpinan,   mendukung pendapat Ostroff  (1992)  yang  mengemukakan  bahwa  ada  perbedaan  orientasi  kerja antara  karyawan  laki-laki  dengan  karyawan  perempuan.  Sebagian  besar karyawan perempuan bekerja bukan untuk memenuhi kebutuhan keluarga ataumengejar karier yang tinggi, tetapi lebih deisebabkan oleh keinginan untuk bekerja saja. Sebaliknya, karyawan laki-laki lebih dituntut untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Menurut Judge dan Watanabe (1993), karyawan perempuan bekerja hanya untuk mewujudkan pengalaman hidup yang lebih menyenangkan. Perbedaan sifat kerja antara karyawan laki-laki dan karyawan perempuan berpengaruh terhadap kepuasan kerja, sehingga dapat disimpulkan bahwa   karyawan   perempuan   lebih   merasa   puas   dibandingkan   dengan karyawan laki-laki.

Hasil  penelitian ini pada faktor  karisma,  yang  menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor karisma dengan kepuasan kerja (r=0,773; p < 0,01), dapat dijelaskan sebagai berikut. Tinggi rendahnya karisma pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya kemampuan pemimpin dalam   mengkomunikasikan   visi   organisasi,   kemampuan   menumbuhkan kepercayaan, rasa kagum karyawan terhadap pemimpin, dan kemampuan pemimpin memotivasi karyawan dalam menjalankan kegiatan organisasi (Bass, 1990; Nanus, 1992; Popper dan Zakkai, 1994). Hasil penelitian ini juga mendukung   pendapat   Yukl   (1998)   yang   mengatakan   bahwa   pemimpin transformasional  dalam  pemimpin  karismatik  yang  memiliki  pengaruh  yang besar terhadap karyawannya. Pemimpin karismatik adalah pemimpin yang mampu menimbulkan emosi-emosi yang kuat. Pemimpin diidentifikasi sebagai panutan oleh karyawan, dipercaya, dihormati, dan memiliki visi yang jelas. Dengan kekuatan dan pengaruh yang dimilikinya, pemimpin karismatik mudah mengarahkan karyawannya untuk mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya bagi kepentingan organisasi yang mengarah kepada tercapai apa yang menjadi tujuan organisasi.

Hasil penelitian ini pada faktor inspirasional, yang menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor inspirasional dengan kepuasan  kerja  (r=0,772;  p  <  0,01),  terjadi  karena  secara  teoritis,  tinggi rendahnya faktor inspirasional dalam setiap pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya   kemampuan   pemimpin   dalam   mengkomunikasikan   harapan- harapan  yang  tinggi,  kemampuan  pemimpin  dalam  menggunakan  simbol- simbol untuk menfokuskan kerja keras, kemampuan pemimpin dalam menyampaikan tujuan-tujuan penting dengan cara yang sederhana dan jelas (Bass, dalam Juge dan Bono, 2000). Selanjutnya, hasil penelitian ini memperkuat pendapat Bass (1997) yang mengatakan bahwa melalui kemampuan inspirasionalnya, seorang pemimpin yang inspirasional mampu membangkitkan antusiasme karyawan terhadap tugas-tugas kelompok dan dapat menumbuhkan kepercayaan karyawan terhadap tugas-tugas kelompok, serta dapat menumbuhkan kepercayaan karyawan terhadap kemampuannya untuk  menyelesaikan  tugas  dan  mencapai  tujuan  kelompok  (Bass,  1997). Selain itu, seorang pemimpin yang inspirasional mampu menciptakan suasana keterbukaan dan kepercayaan (Yukl, 1998). Dengan kata lain, membangun kepercayaan diri karyawan menurut Seltzer dan Bass (1990) adalah elemen utama dari pemimpin yang inspirasional. Keyakinan diri yang besar terhadap apa  yang  dilakukan  akan  menimbulkan  kepuasan  kerja  dan  usaha  yang melebihi usaha biasanya.

Hasil penelitian ini pada faktor stimulasi intelektual, yang menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor stimulasi intelektual dengan kepuasan kerja (r=0,655; p < 0,01), terjadi karena tinggi rendahnya stimulasi intelektual pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya kemampuan pemimpin dalam mengembangkan rasionalitas dan kreativitas karyawan, menghargai ide-ide karyawan, serta kemampuan pemimpin untuk melibatkan karyawan dalam pemecahan masalah (Bass, 1990). Dengan demikian, hasil penelitian  ini  mendukung  pendapat  Yukl  (1998)  yang  mengatakan  bahwa pemimpin transformasional adalah pemimpin yang mampu mendorong karyawannya untuk memuncuklan ide-ide baru dan solusi kreatif atas masalah- masalah yang dihadapi.

Hasil penelitian ini pada faktor perhatian individual, yang menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara faktor perhatian individual dengan kepuasan kerja (r=0,699; p < 0,01), sejalan dengan pendapat Bass (1990) bahwa  tinggi rendahnya perhatian individual pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya kemampuan pemimpin dalam memberikan perhatian secara individual pada kebutuhan untuk berprestasi, dalam menghargai perbedaan individual, dan dalam memberikan pengarahan kepada karyawan. Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat ahli lain, yakni Howell dan Hall- Merenda (1999) yang mengatakan bahwa pemimpin transformasional adalah pemimpin  yang memiliki  kemampuan  dalam  memberikan  perhatian  khusus pada kebutuhan setiap karyawan untuk berprestasi dan berkembang.

Hasil penelitian ini pada faktor imbalan kontingen, yang menunjukkan terdapat hubungan negatif dan tidak signifikan antara faktor imbalan dengan kepuasan kerja (r=-0,008; p > 0,05), sejalan dengan pendapat Bass (1990) yang megatakan bahwa tinggi rendahnya imbalan kontingen pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya kemampuan pemimpin dalam memberikan imbalan dan penghargaan atas usaha atau hasil pekerjaan yang telah dilakukan karyawan.

Hasil penelitian ini pada faktor manajemen eksepsi, yang menunjukkan adanya hubungan negatif dan tidak signifikan antara faktor manajemen eksepsi dengan kepuasan kerja (r=-0,190; p > 0,05), sesuai dengan pendapat Bass (1990), yang mengatakan bahwa tinggi rendahnya manajemen eksepsi pemimpin dapat dilihat dari tinggi rendahnya kemampuan pemimpin dalam memberikan  pengawasan  dan  pengarahan  jika  menemukan  penyimpangan atau kegagalan.

Hasil penelitian ini yang menunjukkan adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara umur dengan kepuasan kerja (r = 0,632; p < 0,01), mendukung pendapat Mathieu dan Farr (1991) yang berpendapat bahwa ada hubungan yang signifikan atara umur dengan kepuasan kerja.

Selanjutnya, adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara tingkat pendidikan dengan kepuasan kerja (r = 0,250; p < 0,01)  pada penelitian ini, sejalan dengan pendapat Kwan dkk. (1997) bahwa tingkat pendidikan berhubungan positif dengan kepausan kerja.

Akhirnya, adanya hubungan positif dan sangat signifikan antara masa kerja dengan kepuasan kerja (r =  0,601; p < 0,01) pada penelitian ini, sesuai dengan pendapat Berry dan Houston (1993) yang mengatakan bahwa masa kerja mempengaruhi kepuasan kerja; semakin lama masa kerja maka kepuasan kerja akan semakin meningkat.

Daftar Pustaka

Bass, B.M. 1990. Bass and Stogdill’s Hand Book of Leadership. New York: Free
Press.

Bass, B.M. 1997. Does Transactional – Transformational Leadership Paradigm Transcend Organizational and National Boundaries? Journal American Psychologist, 52: 130-139.
Berrry, L.M. 1998. Psychology at Work. New York: McGraw-Hill International. Berry, L.M. and Houston, J.P. 1993. Psychology at Work. An Introduction to
Industrial   and   Organizational   Psychology.   New   York:   McGraw-Hill
International.

Bycio, P., Hackett, R.D., and Allen, J.S. 1995. Further Assessments of Bass’s (1985). Conceptualization of Transactional and Transformational Leadership. Journal of Applied Psychology, 80 (4): 468-478.

Eisenbach, R., Watson, K., and Pillai, R. 1999. Transformational Leadership in The Context of Organizational Change. Journal of Organizational Change Management, 12 (2): 80-88.

Greenberg, J. 1996. Managing Behavior in Organization. New Jersey: Prentice- Hall, Inc.

Hart, P.M. 1999. Predicting Employee Life Satisfaction: A Coherent Model of Personality, Work and Non-work Experiences, and Domain Satisfaction. Journal of Applied Psychology, 84(4): 564-584.

Howell, J.M., and Avolio, B.J. 1993. Transformational Leadership, Transactional Leadership, Locus of Control, and Support for Innovation: Key Predictors of Consolidated-Business-Unit Performance. Journal of Applied Psychology, 78 (6): 680-694.

Howell, J.M., and Hall-Merenda, K.E. 1999. The Ties That Bind: The Impact of Leader-Member Exchange, Transformational and Transactional Leadership, and Distance on Predicting Follower Performance. Journal of Applied Psychology, 84 (5): 395-401.

Judge, T.A. 1993. Does Affective Disposition Moderate The Relationship Between Job Satisfaction and Voluntary Turnover? Journal of Applied Psychology, 78 (3): 395-401.

Judge, T.A., and Bono, J.E. 2000. Five-factors Model of Personality and transactional Leadership. Journal of Applied Psychology, 85 (5): 751-765.

Judge, T.A., and Locke, E.A. 1993. Effect of Dysfunctional Thought Processes on Subjective Well-Being and Job Satisfaction. Journal of Applied Psychology, 78 (3): 475-490.

Judge, T.A., Locke, E.A., Durham, C.C., and Klunger, A.N. 1998. Dispositional Effect on Job and Life Satisfaction: The Role of Core Evaluations. Journal of Applied Psychology, 83 (1): 17-34.

Judge, T.A., and Watanabe, S. 1993. Another Look at The Job Satisfaction-Life
Satisfaction Relationship. Journal of Applied Psychology, 78 (6): 939-948.

Keller, R.T. 1992. Transformational Leadership and The Performance of Research and Development Project Groups. Journal of Management, 18 (3): 489-501.

Koh, W.L., Steers, R.M., and Terborg, J.R. 1995. The Effect of Transformational Leadership on Teacher Attitudes and Student Performance in Singapore. Journal of Organizational Behavior, 16: 319-333.

Kwan, V.S.Y., Bond, M.H., and Singelis, T.M. 1997. Pan cultural Explanation for Job Satisfaction: Adding Relationship Harmony to Self-Esteem. Journal of Applied Psychology, 73(5): 1038-1051.

Mathieu,  J.E.,  and  Farr,  J.L.  1991.  Further  Evidence  for  The  Discriminant Validity of Measures of Organizational Commitment, Job Involvement, and Job Satisfaction. Journal of Applied Psychology, 76 (1): 127-133.
Nanus, B. 1992. Visionary Leadership. San Fransisco: Jossey-Bass Publishers. Nicholls, J. 1994. The “Heart, Head, and Hands” of Transforming Leadership.
Leadership and Organization Development Journal, 15 (6): 8-15.

Ostroff, C. 1992. The Relationship Between Satisfaction, Attitudes, and Performance: An Organizational Level Analysis. Journal of Applied Psychology, 77 (6): 963-974.

Pawar, B.S., and Easman, K.K. 1997. The Nature and Implication of Contextual Influences on Transactional Leadership: A Conceptual Examination. Academy of Management Review, 22 (1): 80-109.

Podsakoff, P., MacKenzie, S.B., and Bommer, W.H. 1996. Transformational Leader Behavior and Substitutes for Leadership as Determinants of Employee  Satisfaction,  Commitment,  Trust,  and  Organizational Citizenship Behaviors. Journal of Management, 22 (2): 259-298.

Popper, M., and Zakkai, E. 1994. Transactional, Charismatic, and Transformational Leadership: Conditions Conductive to Their Predominance. Leadership and Organizational Development Journal, 15 (6): 3-7.
Riggio,  R.E.  1990.  Introduction  to  Industrial  and  Organization  Psychology.
London: Scott, Forestman and Company.

Schultz, D.P., and Schultz, S.E. 1994. Psychology and Work Today: An Introduction to Industrial and Organizational Psychology. Sixth Edition. London: MacMillan Publishing Company.

Seltzer,  J.,  and  Bass,  B.M.  1990.  Transformational  Leadership:  Beyond
Initiation and Consideration. Journal of Management, 16 (4): 693-703.

Wexley, K.N., and Yukl, L.A. 1988. Organizational Behavior and Personnel
Psychology. Boston: Richad D. Irwin, Inc.

Yukl, G.A. 1998. Leadership in Organization. Second Edition. Englewood Clifs, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

 

Metode Penelitian

Variabel-Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini ada tiga jenis variabel penelitian, yakni variabel bebas (independent variable), variabel tergantung (dependent variable), dan

variabel sertaan. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah: (1)

spersepsi gaya kepemimpinan transformasional, dan (2) persepsi gaya kepemimpina transaksional.  Variabe tergantun penelitian  ini  adalah


kepuasan kerja. Variabel sertaan adalah: (1) jenis kelamin, (2) umur, dan (3)

tingkat pendidikan.

%d bloggers like this: